Advertisement
CIANJUR, 7menitupdate // Musim kemarau kembali memukul para pembudidaya ikan di perairan Jangari, Kabupaten Cianjur. Fenomena upwelling yang terjadi beberapa hari terakhir memicu kematian massal ikan budidaya, khususnya ikan mas dan ikan bawal. Ribuan ekor ikan tampak mengapung mati di permukaan kolam.
Salah satu pembudidaya, Dadan (48), menuturkan ikan miliknya mati secara bertahap mulai dari pinggir kolam.
"Pada mati hampir semua. Dari pinggir semua ini mabok. Yang tersisa paling bibit, masih kecil," ujarnya saat ditemui di lokasi.
Menurut Dadan, kejadian ini bukan hal baru bagi warga Jangari. Setiap memasuki musim kemarau dengan debit air menyusut dan angin kencang dari selatan, fenomena serupa hampir selalu muncul.
"Wah, sering. Kadang-kadang tiap tahun ada satu kali mabok. Kemarau, air kecil, terus angin dari selatan," katanya.
Secara ilmiah, upwelling adalah peristiwa naiknya arus air dari dasar ke permukaan yang membawa perubahan suhu, kadar oksigen, dan zat lain. Perubahan mendadak ini membuat ikan budidaya stres dan akhirnya mati massal.
Dampak ekonomi yang dirasakan petani cukup berat. Untuk pembudidaya skala kecil, kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp10 juta. Sementara pembudidaya skala besar bisa kehilangan ratusan juta rupiah dalam satu peristiwa. Kerugian itu mencakup modal bibit, pakan, hingga tenaga kerja.
Beban petani semakin bertambah karena harga jual ikan tidak stabil. Di sisi lain, harga pakan terus naik. Dulu masih di bawah Rp10 ribu per kilogram, kini sudah tembus lebih dari Rp12 ribu. Sementara harga ikan di pasaran hanya berkisar Rp23 ribu per kilogram.
"Kondisinya sekarang serba sulit. Ikan mati kena cuaca, pas panen harga jatuh, tapi pakan malah naik terus," ujar Dadan. Ia berharap ada kepastian harga yang lebih berpihak kepada petani.
Ketua RT sekaligus petani setempat meminta pemerintah melalui dinas terkait turun langsung memberikan pendampingan dan penyuluhan agar petani bisa mengantisipasi upwelling yang datang setiap tahun.
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Perikanan Kabupaten Cianjur, Yusuf Tatang Johari, membenarkan kematian ikan di Jangari disebabkan upwelling akibat angin yang mendorong arus bawah naik ke permukaan.
"Kami sudah melakukan sosialisasi dan imbauan kewaspadaan, termasuk terkait dampak El Nino," kata Yustang.
Untuk membantu petani terdampak, dinas membuka skema bantuan bibit ikan. Bantuan dapat diajukan kelompok pembudidaya melalui proposal atau surat permohonan ke pemerintah daerah.
"Semua petani difasilitasi selama memiliki kelompok. Kelompok yang terdampak bisa meminta bantuan bibit, nanti kita tindak lanjuti," jelas Yustang.
Terkait keamanan konsumsi, Yustang memastikan ikan di wilayah Cianjur masih aman. Namun ia mengingatkan agar mewaspadai kualitas air saat kemarau karena zat dari dasar bisa ikut terangkat.
Ddn (Ule)